Saturday, March 2, 2013

Seiyuu Ka's Ending

Seiyuu-ka has ended. Chapter 70 is the last chapter. It was my favorite shoujo manga, actually. But why did it have to end like that? Suddenly Hime had become lovely blazer seiyuu and married Senri. But why, why senseeeei? It was like being fast forwarded 32x. Way too fast! I want more of their cute side before they're married! Aaaa, it was too short for me. Well, it's not like I want it to be any of those common soap operas. But come on, Hime even hadn't had her debut as female seiyuu. And the complication with her mother too, it wasn't resolved properly.  And the most important is... Senri didn't explicitly said how he felt towards Hime! Arrgh! Those things are the plot holes in this manga even though the chapters before chapter 70 are great. After all, I think chapter 70 has failed to make an epic ending. It feels like Seiyuu-ka manga has some trouble so it's forced to end. This kind of forced ending is really disappointing for sure.
But still, I'm happy Hime ended up with Senri :3

Saturday, February 23, 2013

Random

This is just a random post, actually. Just... what is it? With the things happened lately, I kinda feel like losing trust in other people. Becoming more individualistic, setting some boundaries in the relationships I had with friends, and somehow I felt really flat lately. Nothing. I don't really have someone I trust enough to tell my stories, the stories filled with so many emotions.

When people told me something that's against my principle, I ignored it. When they forced it on me, I might be seemed like I understood it and going to do it. But yeah, I screamed as hard as I can with a shut mouth. Buried it deep down inside. Just shut up, will ya? I know I'm the trouble. I know the problem lies in me. And I'm the one who can solve it. You can't, but you can help. Unfortunately, I don't trust you.

So what? Leave me be for now.

Wednesday, February 6, 2013

Undangan Atau SBMPTN?

Tiba-tiba pingin nulis sesuatu. Beneran deh, minggu ini termasuk one week of living hell. Ulangan harian beruntun mamen, padahal bukan UH bersama kaya waktu SMP dulu. Senin ada matematika sama jepang, selasa agama, rabu kimia, kamis bahasa inggris, jumat? Gatau deh semoga nggak. Dan hari ini ulangan matematika dibagiin. Demi apa aku salahnya terletak di tanda plus dan minus semua. Demi apa, aku ternyata sangat nggak teliti. Dodol gitu rasanya. Seperti yang dikatakan Gomce, Pak Pur waktu ngoreksi ulangannya anak-anak mbatin be'e yo. Habis rata-rata emang anak-anak gak teliti. Yah, tapi untung ya ini cuma UH. Bukan SBM PTN. Bisa berabe kalo gak telitinya disana. Ya gak?

Anyway, ngomongin SBM PTN, entah kenapa aku kepikiran buat ngambil tes jalur itu aja. Habis jujur aja aku nggak seberapa percaya sama sistem undangan yang sekarang. Kalo menurutku, sistem undangan sekarang itu sistem 'kepercayaan'. Gimana nggak, nilai dimasukin sendiri sama sekolah terus diverifikasi sendiri. Apalagi nanti undangannya dicampur nilai UNAS. Rawan kecurangan. Bukannya mau suudzon sih, tapi ngelihat nasib-nasib tes semacam ini yang banyak didominasi perilaku kotor kaya contekan massal sama joki, ya gimana aku nggak ngeraguin sistem 'kepercayaan' ini? Kalo kaya gini kan bisa aja malah sekolahnya yang curang dengan me-mark-up nilai siswa-siswanya. Kata pemerintah mau meratakan pendidikan untuk jenjang perguruan tinggi pake sistem undangan ini, tapi aku nggak melihat itu bisa meratakan pendidikan. Malah bisa dicurangi kan. Gitu rata ya? Nggak.

Pernah dulu kepikiran buat rajin belajar biar bisa masuk lewat undangan. Tapi itu dulu, sebelum kuota undangan dinaikkan dan hal-hal seputar masuk perguruan tinggi makin diribetin. Dan sekarang undangan dari semester satu? What the hell are you trying to say, man. Grafik nilaiku udah terlanjur berbentuk gunung. Tinggi di semester dua dan hancur di semester satu dan tiga. Karena dulu pikirku undangan dihitung dari semester tiga, aku santai aja di semester tiga. Dijelek-jelekin aja dulu pikirku. Tapi ya bodo banget aku gitu. Harusnya aku nurutin kata mama aja. Belajar yang rajin dari semester satu, jangan dari kelas dua tok. Nyesel kan sekarang. Tapi ya udah, yang udah terjadi terjadilah. Intinya, aku nargetin buat masuk PTN lewat SBMPTN. Yah, oke, aku juga bakal nyoba undangan meski peluangnya kecil. Apa salahnya nyoba? Ga ada kan~



Satu hal yang masih menghantuiku adalah : "Mau kuliah mana? Jurusan apa?"